June 6, 2020

GRIYA TAHFIDZ IBNU MUSLIM

Hafidz – Sholih – Mandiri

Rekening Tertua di Dunia: Rekening Usman bin Affan yang Berumur 1400 Tahun

Ini adalah kisah tentang rekening yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Pemiliknya pun tak tahu. Ahli warisnya juga tidak tahu. Tidak ada yang merasa berhak atas ini rekening tersebut. Padahal, saldonya bukan hanya ribuan. Bukan pula jutaan. Bukan hanya milyaran. Tapi, telah berkembang menjadi asset yang sangat besar dan diprediksi akan terus berkembang dan bertambah banyak.

Rekening apakah itu?

Ya…itu adalah rekening atas nama Usman bin Affan.

Kalian pasti tahu, siapa Usman bin Affan?

Seorang pengikut Nabi shallaahu alaihi wasallam, kaya raya, terkenal sangat dermawan, dan pada suatu ketika, dipercaya umat Islam menjadi Khalifah Ketiga, setelah Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin Al-Khattab.

Tak pernah terbayang, ternyata ada suatu bank di Saudi Arabia, sampai saat ini, masih menyimpan sebuah. Ya, sebuah rekening. Rekening sudah sangat lama. Bahkan kuno sekali. Rekening itu atas nama Usman bin Affan. Bukan hanya rekening, tapi juga telah berdiri sebuah hotel di Madinah dengan nama Hotel Usman bin Affan.

Apakah Usman bin Affan pada masa itu telah mengenal arti rekening dan hotel?

Tentu saja tidak. sebab, saat itu belum ada yang namanya bank, juga hotel.

Kisah ini dimulai semenjak kaum Muslimin hijrah ke Madinah. Jumlah umat Islam saat itu semakin bertambah banyak. Sehingga, salah satu kebutuhan yang mendesak adalah ketersediaan air jernih. Saat itu, ada sebuah sumber air atau sumur yang dikenal dengan Sumur Rumah (tulisan aslinya dari bahasa Arab berbunyi: ruumatun). Sumur itu termasuk sumur terbesar dan terbaik. Pemiliknya seorang Yahudi pelit dan oportunis.

Ketika kondisi Madinah sedang sulit air, si Yahudi memanfaatkan kondisi tersebut untuk berbisnis. “Mulai sekarang, air tidak lagi gratis. Yang butuh air, harus bayar!”, begitu kira-kira. Semakin sulit air, semakin mahal harganya. Si Yahudi pun tak segan untuk menaikkan harganya. Memang otak bisnis, dan oportunis.

Mengetahui hal itu, Usman bin Affan lantas mendatangi si Yahudi dan bermaksud membeli Sumur Rumah tersebut. Tapi, tidak boleh. Dinaikkan harganya, tetap tidak boleh. Tapi Usman sangat cerdas. Usman tidak ingin membeli semuanya, tapi hanya separuhnya saja. Harganya pun mahal. Lalu pemanfaatannya dijadwal harinya secara bergantian. Hari Senin milik Usman dan hari Selasa milik Yahudi. Dan seterusnya. Si Yahudi setuju, sebab ia akan mendapat uang cash yang besar dan juga tidak kehilangan penghasilan.

Tapi, lihatlah apa yang dilakukan Usman bin Affan…

Pada saat jadwal harinya Usman, sumur itu digratiskan. Siapa saja boleh mengambil. Tidak membayar. Maka pada hari Senin, orang-orang ramai mengambil air. Sebanyak-banyaknya. Juga untuk persediaan hari besok, Selasa, karena jadwalnya si Yahudi, sehingga harus membayar.

Benar saja, hari Senin orang-orang ramai mengambil air. Mengambilnya pun tidak dibatasi. Boleh sebanyak-banyaknya. Asal mencukupi.

Lalu, besoknya, hari Selasa….sepi. Tidak ada orang yang datang.

Hari Rabu adalah jatahnya Usman. Orang-orang datang lagi. Ramai, karena tidak membayar.

Hari Kamis….sepi lagi.

Demikian seterusnya…

Lalu, si Yahudi pun putus asa, merasa rugi, sehingga bermaksud menjual sumur tersebut kepada Usman. Semuanya.

Dengan senang hati, Usman bin Affan membeli sisa hak sumur tersebut. Jadilah, sumur itu sekarang menjadi milik Usman bin Affan secara keseluruhan.

Apakah Usman kemudian memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi dan mencari keuntungan sebanyak-banyaknya?

Ternyata tidak. Oleh Usman, sumur itu diwakafkan untuk keperluan umat Islam. Siapapun boleh ambil, tanpa dipungut biaya.

Itulah kisah Sumur Rumah yang kelak dikenal dengan Sumur Usman bin Affan. Sumur dan tanah di sekitarnya telah berubah menjadi kebun yang subur dan tetap menjadi sumur dan tanah wakaf. Tahun demi tahun berlalu. Sumur dan kebun Usman tersebut semakin subur, berkembang, dan luas. Lokasinya menjadi strategis. Apalagi saat ini…

Saat ini, setelah Kerajaan Saudi Arabia berdiri, perawatan kebun tersebut berjalan semakin baik. Alhasil, di kebun tersebut tumbuh ribuan pohon kurma. Hasil dari kebun tersebut saat ini dibagi dua. Setengahnya dibagikan kepada anak-anak yatim dan fakir miskin. Separuhnya lagi disimpan di sebuah bank dengan rekening atas nama Usman bin Affan.

Rekening atas nama Usman tersebut dipegang oleh Kementerian Wakaf.

Saldo rekening itu terus bertambah. Sampai pada akhirnya dapat digunakan untuk membeli sebidang tanah di kawasan Markaziyah dekat Masjid Nabawi.

Di atas tanah tersebut, saat ini dibangun sebuah hotel berbintang lima dengan dana masih dari rekening Usman.

 Saat ini, melalui kontrak sewa ini, income tahunan yang diperkirakan mencapai lebih dari 50 juta Riyal. Berapa ya kalau dirupiahkan? Dikalikan saja 3000. Ketemunya lebih dari Rp. 150 Milyar. Luar biasa. 

Pengelolaan penghasilan tersebut akan tetap sama. Separuhnya dibagikan kepada anak-anak yatim dan fakir miskin. Sedang separuhnya lagi disimpan di rekening Usman bin Affan.

 Saudaraku…

Itulah perdagangan Usman bin Affan dengan Allah melalui transaksi wakaf. Transaksi yang telah berlangsung selama lebih dari 1400 tahun. Luar biasa. Beruntung sekali hamba Allah yang sangat mulia ini. Usman binn Affan. Kelak, semoga ada rekening-rekening seperti itu yang akan menjadi amal jariyah bagi pemiliknya. Insya Allah….

Mulai Obrolan
Butuh bantuan ?
**Ahlan Wasahlan****
Griya Tahfidz Ibnu Muslim
ada yang dapat kami bantu ?